Langsung ke konten utama

PERUBAHAN SOSIAL (SOSIAL CHANGE)


PENGERTIAN PERUBAHAN SOSIAL


             Perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat yang berdifat terus menerus serta tidak akan pernah berhenti. Sebab, suatu masyarakat tidak akan pernah bisa berhenti di satu titik saja. Walaupun para sosiolog membagi masyarakat menjadi masyarakat statis dan dinamis, tetapi statis yang dimaksud bukanlah tidak berubah sama sekali. Masyarakat statis yang dimaksud adalah masyarakat yang sedikit sekali mengalami perubahan dan berjalan lambat dalam hal perubahan. Sedangkan masyarakat dinamis merupakan masyarakat yang cepat dalam hal perubahan.

Manusia adalah aspek yang paling penting dalam perubahan sosial. Hal ini dikarenakan sifat alamiah manusia yang selalu ingin mengalami perubahan, sifat yang sulit puas terhadap sesuatu, serta keinginan untuk mencoba hal-hal baru guna mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.

Perubahan sosial pada dasarnya diartikan sebagai suatu proses pergeseran atau perubahan tatanan atau struktur dalam suatu masyarakat,perubahan tersebut meliputi pola pikir, sikap, serta kehidupan menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Sedangkan menurut para ahli, pengertian perubahan sosial adalah sebagai berikut.

1.      Robert M MacIver, perubahan sosial adalah perubahan-perubahan dalam interaksi sosial (social relation) atau perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial.

2.  Kingsley Davis, perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Menurutnya, timbulnya pengorganisasian buruh dalam masyarakat kapitalis telah menyebabkan perubahan dalam hubungan-hubungan antara buruh dengan majikan, dan seterusnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik

3.   William Ogburn, membuat batasan ruang lingkup dalam pengertian perubahan sosial. Ogburn menjelaskan bahwa perubahan sosial mencakup unsur-unsur kebudayaan baik yang bersifat materiil maupun immateriil dengan penekanan yang besar dari unsur-unsur kebudayaan yang materiil terhadap unsur-unsur kebudayaan yang immateriil.

4.    Selo Soemarjan, perubahan sosial adalah perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap dan perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

5.   John Lewis Gillin dan John Philip Gillin, perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara hidup yang diterima, akibat adanya perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk, ideologi, maupun karena adanya difusi dan penemuan baru dalam masyarakat.[1]

 

TEORI PERUBAHAN SOSIAL

Dalam memahami perubahan sosial, terdapat berbagai teori yang dapat mendukung penjelasan menganai perubahan sosial tersebut.

Teori Klasik

1.     Teori Evolusi (Evolutionary Theory)

Awalnya, teori evolusi dikembangkan oleh Auguste Comte (1798- 1857) dan Herbert Spencer (1820-1903), lalu dilanjutkan oleh Emile Durkheim dan Tonnies. Secara umum, teori ini memandang bahwa perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah.

a.      Perubahan sosial berlangsung melalui tahapan-tahapan yang sama

b.   Perubahan sosial secara evolusi mempengaruhi cara pengorganisasian masyarakat, terutama yang berhubungan dengan kerja

c. Masyarakat berubah dari masyarakat sederhana yang mempunyai hubungan yang erat dan kooperatif menjadi tipe masyarakat besar yang memiliki hubungan yang terspesialisasi dan impersonal. [2]

2.     Teori Konflik (Conflict Theory)

Teori konflik didasarkan pada pemikiran Karl Marx dan Ralf Dahrendorf. Menurut Marx, konflik kelas sosial adalah sumber utama dalam perubahan sosial, sedangkan Dahrendorf berpendapat bahwa semua perubahan social adalah hasil dari konflik kelas di masyarakat. Prinsip dasar teori konflik adalah.

a.      Konflik, pertentangan, dan perubahan sosial selalu ada dalam setiap bagian masyarakat.

b.      Konflik dan perubahan sosial selalu melekat dalam struktur masyarakat

c.   Konflik sosial merupakan proses sosial yang sifatnya konstan, sedangkan perubahan sosial sebagai akibat konflik.[3]

3.     Teori Fungsional (Functionalist Theory)

Menurut teori ini, perubahan adalah sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan. Perubahan adalah sesuatu yang dipandang sebagai penyebab terjadinya ketidakseimbangan social, hingga tercapai keseimbangan social kembali manakala unsure perubahan tersebut telah diintegrasikan ke dalam kebudayaan. Proses pengintegrasian ini dapat berlangsung pada perubahan yang memiliki memiliki manfaat bagi masyarakat, sedangkan perubahan yang disfungsional akan ditolak.

4.     Teori Siklus (Cyclical Theory)

Teori siklus mempunyai pandangan bahwa pada setiap masyarakat memiliki siklus, maksudnya perubahan social tidak berhenti pada satu tahap tertentu saja tetapi akan terus berlangsung. Oswald Spengler menggambarkan perkembangan masyarakat seperti perkembangan manusia, yakni melalui masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga tua. Begitu pula dengan masyarakat, mereka juga akan melalui empat tahap perkembangan seperti perkembangan manusia.[4]

Teori Modern

1.     Teori Modernisasi (Modernization Theory)

Teori modernisasi memandang negara-negara berkembang dan belum berkembang perlu mengatasi bermacam permasalahan guna mencapai perkembangan ekonomi. Kedua kelompok negara tersebut dapat menjadi negara maju atau negara industri melalui proses modernisasi. Modernisasi dapat mempercepat perkembangan ekonomi diberbagai aspek kehidupan. Salah satu indikator negara maju adalah kemajuan dalam bidang ekonomi. Menurut Etzioni-Halevy, perubahan dari tradisional ke arah berkembang ditandai dengan menurunnya angka kematian dan kelahiran, ukuran dan pengaruh keluarga, terbukanya sistem stratifikasi sosial, sistem kelembagaan birokratis, munculnya kebudayaan massa, dan munculnya perekonomian pasar serta industrialisasi.[5]

2.     Teori ketergantungan (Dependencia Theory)

Tokoh yang menggagas teori ketergantungan ini adalah Andre Cunder Frank. Teori ketergantungan memandang bahwa perkembangan di dunia ini tidak merata, yang mana negara maju menempati posisi yang dominan, sedangkan negara belum berkembang dalam bidang ekonomi memiliki ketergantungan terhadap negara maju. Oleh sebab itu, muncul kolonialisme dan neokolonialisme pada negara-negara yang belum berkembang. Negara maju memiliki kekuatan secara ekonomi dan cenderung menciptakan suatu kondisi ketergantungan bagi negara yang belum berkembang.[6]

3.     Teori Sistem Dunia (World System Theory)

Salah seorang pengikut teori ini ialah Imanuel Wallerstein. Teori ini berpandangan bahwa perekonomian dunia terbagi atas tiga jenjang, yaitu negara inti, negara semi periferi, dan negara periferi. Negara inti mendominasi sistem dunia sehingga mampu memanfaatkan sumberdaya negara lain, terutama negara semi periferi dan negara periferi, untuk kepentingannya. Kondisi ini menciptakan kesenjangan perkembangan yang semakin besar antara negara inti dengan kedua jenjang negara tersebut. Negara inti adalah negara maju, yakni Amerika, Jepang, dan negara-negara Eropa Barat lain. Negara semi periferi meliputi negara-negara eropa selatan, sedangkan negara periferi adalah negara-negara di kawasan Asia dan Afrika.[7] [8]

 

TAHAPAN PROSES PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial merupakan suatu proses yang panjang, diawali dengan terjadinya perubahan dalam salah satu aspek kehidupan di masyarakat, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan sosial serta adanya reorganisasi untuk tercapainya keseimbangan kembali. Umumnya, proses perubahan sosial melalui empat tahapan, yaitu.

1.     Adaptasi

Terjadinya perubahan dalam suatu hal akan dihadpakan dengan dua kemungkinan, yaitu menolak atau menerima. Perubahan tersebut dapat ditolak sebab bertentangan atau tidak sesuai dengan keadaan suatu masyarakat, dan perubahan bisa diterima oleh masyarakat jika tidak bertentangan serta adanya kesesuaian dengan masyarakat. Munculnya perubahan dapat menganggu keseimbangan sosial sehingga dapat merubah susunan lembaga kemasyarakatan yang sudah ada. Oleh sebab itu akan ada yang namanya proses adaptasi masyarakat terhadap perubahan.

Menurut Selo Soemardjan, keseimbangan dalam masyarakat (social equilibrium) yaitu suatu keadaan yang mana lembaga-lembaga kemasyarakatan yang pokok dari masyarakat benar-benar berfungsi dan saling mengisi. Secara psikologis, individu dalam kondisi keseimbangan ini akan merasakan suatu ketentraman, karena tidak adanya pertentangan dalam norma-norma dan nilai-nilai. Setiap terjadi gangguan terhadap keseimbangan sosial, maka masyarakat dapat menolaknya maupun menerima unsur yang baru tersebut dengan cara mengubah susunan lembaga kemasyarakatannya. Apabila ketidakseimbangan dapat diseimbangkan kembali setelah adanya perubahan, maka disebut dengan penyesuaian (adjustment), tetapi apabila tidak terjadi pengesuaian disebut ketidaksuaian sosial (maladjustment).[9]

2.     Saluran Perubahan

Saluran perubahan sosial merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan yaitu lembaga kemasyarakatan. Lembaga kemasyarakatan yang menjadi saluran perubahan adalah lembaga yang memiliki penilaian terbaik dari masyarakat. Lembaga masyarakat bisa ada di bidang manapun. Hal tersebut tergantung pada pusat perhatian masyarakat (cultural focus). Lembaga kemasyarakatan tersebut akan membawa dampak pada lembaga kemasyarakatan lainnya, sehingga perubahan akan terjadi secara menyeluruh (struktur sosial).

3.     Disintegrasi

Perubahan dapat mengakibatkan desintegrasi atau perpecahan. Menurut Soerjono Soekanto, desintegrasi atau disorganisasi adalah proses pudarnya norma dan nilai dalam masyarakat yang disebabkan oleh perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan. Perubahan sosial dapat menyebabkan nilai dan norma masyarakat tergeser atau berubah. Gejala disorganisasi dan desintegrasi dalam masyarakat dimulai dari lima kondisi, yaitu.

a.      Tidak ada lagi kesepakatan antar anggota kelompok tentang tujuan sosial yang ingin dicapai.

b.   Norma-norma sosial tidak lagi dapat membantu anggota masyarakat dalam mencapai tujuan yang disepakati dan dianggap tidak sesuai lagi.

c.    Sanksi sudah lemah bahkan sudah tidak dilaksanakan secara konsekuen.

d.  Tindakan yang dilakukan oleh setiap anggota masyarakat telah bertentangan dengan norma masyarakat.

4.     Reintegrasi

Desintegrasi harus diimbangi dengan reintegrasi. Tujuannya yaitu guna mengembalikan pada keadaan yang diinginkan. Menurut Soerjono Soekanto, reintegrasi atau reorganisasi adalah proses pembentukan norma-norma dan nilai-nilai baru guna menyesuaikan diri dengan lembaga masyarakat yang mengalami perubahan. Reintegrasi terlaksana jika norma dan nilai baru telah melembaga dalam masyarakat. Pada dasarnya, setiap perubahan dapat mengakibatkan adanya perbedaan tanggapan, maka perlu adanya pemahaman mengenai reintegrasi atau reorganisasi. Upaya untuk menjaga keutuhan bangsa serta menghindari disintegrasi.

a.      Menanamkan kesadaran mengenai pentingnya berbangsa dan bertanah air.

b.      Perundingan ketika terdapat pihak-pihak yang melakukan reaksi keras.

c.       Menempuh jalur hukum terhadap mereka yang menyimpang;

d. Menggunakan saluran militer untuk meredakan pergolakan yang mengarah pada pemberontakan.

 

BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL

Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tentu menemui berbagai macam bentuk perubahan sosial yang dapat digambarkan sebagai berikut.

1.     Perubahan sosial secara lambat

Perubahan secara lambat atau disebut juga dengan evolusi adalah perubahan sosial yang terjadi dalam proses yang lambat dan dalam waktu yang cukup lama tanpa ada kehendak tertentu dari masyarakat yang bersangkutan. Perubahan tersebut terjadi sebab adanya dorongan dari masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap kebutuhan hidup dengan perkembangan masyarakat pada waktu tertentu, misalnya, adanya modernisasi mengakibatkan perubahan pada sistem transportasi, dan sistem perbankan.

2.     Perubahan sosial secara cepat

Perubahan revolusi adalah perubahan yang berlangsung secara cepat. Perubahan ini terjadi bisa karena sudah direncanakan sebelumnya maupun tidak sama sekali. Revolusi biasanya diawali oleh ketegangan atau konflik dalam masyarakat. Misalnya, peristiwa terjadinya revolusi industri di inggris, dimana terjadi pada tahap produksi yang awalnya tanpa mesin, kemudian berubah menjadi tahap produksi menggunakan mesin.

3.     Perubahan yang direncanakan

Perubahan yang direncanakan yaitu perubahan yang terjadi sebab adanya perkiraan atau rencana dari pihak-pihak yang menghendaki adanya perubahan tersebut. Contoh perubahan yang disebabkan oleh perubahan peraturan dalam suatu organisasi untuk mengatur anggotanya.

4.     Perubahan yang tidak direncanakan

Perubahan yang tidak direncanakan yaitu perubahan yang terjadi di luar dari kehendak dan pengawasan dari masyarakat. Perubahan yang tidak direncanakan umumnya akan menimbulkan konflik dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan. Contoh wabah covid 19 yang terjadi sekarang ini yang menyebabkan terganggunya seluruh sektor bidang kehidupan manusia.

5.     Perubahan kecil dan besar

Perubahan kecil dimaknasi sebagai perubahan yang terjadi pada unsur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung serta pengaruh yang berarti bagi masyarakat. Contoh yang termasuk perubahan kecil adalah perubahan model rambut, pakaian, dll. Sedangkan perubahan besar adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang dapat memberi pengaruh langsung terhadap masyarakat. Contoh perubahan alat komunikasi jarak jauh dari yang awalnya menggunakan surat, kini telah digantikan oleh adanya telefon dan gadget.[10] [11]

 

DIMENSI PERUBAHAN SOSIAL

Dimensi perubahan sosial dalam masyarakat dibagi menjadi tiga bagian.

1.     Dimensi Perubahan Sosial pada Struktur

Perubahan sosial pada struktur ini terjadi kepada perilaku masyarakat akibat adanya faktor dari dalam maupun dari luar. Masyarakat mengalami perubahan sosial pada banyak sisi bukan hanya satu sisi saja, hal tersebut yang mengakibatkan masyarakat melakukan perubahan. Perubahan struktur tersebut terjadi berkaitan dengan kebijakan yang dikeluarkan dalam suatu keputusan mengambil keputusan.

2.     Dimensi Perubahan Sosial pada Budaya

Perubahan budaya yaitu perubahan pada nilai atau adanya ide yang dibangun dalam masyarakat, berkaitan dengan faktor dalam diri sendiri, maupun faktor dari luar yang mempengaruhinya. Biasanya perubahan ini mengakibatkan terjadinya modernisasi atau penemuan baru yang terintegrasi dalam kehidupan masyarakat. Peristiwa perubahan sosial yang terjadi seperti culture lag, culture survival, cultural conflict, and cultural shock.

3.     Dimensi Perubahan Sosial pada Interaksional

Teknologi ikut mempengaruhi masyarakat yang mengakibatkan hubungan sehari-hari semakin menjauh. Interaksi yang dibangun secara primer membawa pengaruh kepada tatanan hidup untuk bisa melakukan aktivitas sehari-hari. Perkembangan teknologi juga menjadikan manusia hidup bersifat impersonal dalam segala tindakan. Akibat perkembangan teknologi memberikan batasan para pekerja untuk berkerja sama dan sering mengakibatkan konflik pada komunitas masyarakat.[12]

 

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN SOSIAL

Hal-hal umum yang melatarbelakangi terjadinya perubahan sosial dalam masyrakat adalah ketidakpuasan masyarakat mengenai suatu hal serta menginginkan perubahan menuju kearah yang lebih baik lagi.

Sebab-sebab yang bersumber dalam masyarakat itu sendiri, yaitu.

1.   Mobilitas penduduk, meliputi perpindahan penduduk, bertambah serta berkurangnya penduduk di suatu daerah.

2.    Penemuan-penemuan baru (Inovasi). Inovasi merupakan penyebab perubahan sosial yang dibedakan menjadi dua, yaitu descovery dan invention. Discovery ialah penemuan unsur kebudayaan baru baik berupa alat maupun gagasan yang diciptakan oleh seorang individu atau serangkaian yang diciptakan oleh individu. Discovery baru menjadi Invention kalau masyarakat sudah mengakui serta menerapkan penemuan baru tersebut.

3.      Pertentangan-pertentangan atau konflik dalam masyarakat.

4.      Terjadinya pemberontakan atau revolusi di dalam tubuh masyarakat itu sendiri.

Sebab–sebab yang bersumber dari luar masyarakat, yaitu.

1.      Sebab-sebab yang berasal dari lingkungan fisik yang ada di sekitar manusia, seperti halnya bencana alam.

2.      Peperangan dengan negara lain.

3.      Pengaruh kebudayaan lain.

Terdapat faktor lain yang mendorong jalannya proses perubahan, yaitu.

1.      Kontak dengan kebudayaan lain.

2.      Sistem pendidikan yang maju.

3.      Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju.

4.      Toleransi terhadap perbuatan menyimpang.

5.      Sistem masyarakat yang terbuka.

6.      Penduduk yang heterogen.

7.      Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu.

8.      Orientasi ke depan.

9.      Nilai meningkatnya taraf hidup.

Faktor-faktor yang menghambat tejadinya perubahan, yaitu.

1.      Kurangnya hubungan dengan masyarakat-masyarakat lain.

2.      Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat.

3.      Sikap masyarakat yang tradisionalistis.

4.      Adanya kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat.

5.      Rasa takut akan terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan.

6.      Prasangka terhadap hal-hal yang baru atau asing.

7.      Hambatan ideologis.

8.      Kebiasaan.

9.      Nilai pasrah.[13]

 

DAMPAK PERUBAHAN SOSIAL

Perubahan sosial menimbulkan pengaruh baik positif maupun negatif. Pengaruh yang positif akan menciptakan masyarakat yang interaktif. Sedangkan pengaruh negatif dapat menimbulkan masyarakat yang disinteraktif.[14]

Dampak positif perubahan sosial

1.      Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

2.      Terciptanya lapangan kerja baru.

3.      Terciptanya tenaga kerja yang profesional.

4.      Efektifitas dan efesiensi kerja.

5.      Tingkat pendidikan tinggi serta merata.

6.      Terciptanya nilai dan norma baru.

Dampak negatif perubahan sosial

1.      Terjadinya disintegrasi sosial.

2.      Pergolakan daerah.

3.      Terjadinya kesenjangan ekonomi dalam masyarakat.

4.      Perubahan tingkah laku.

5.      Adanya disorientasi nilai dan norma.

6.      Degradasi moral.

7.      Maraknya pengangguran.



[1] Lorentius Goa, ‘Perubahan Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat’, 15.

[2] Ida Ayu Sidemen, ‘Paradigma dalam Studi Kebudayaan’, JURUSAN SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS UDAYANA, 2017 <https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_penelitian_1_dir/86e75690520f8be9afeaa1f720df9e56.pdf>.

[3] Tumengkol Selvie, ‘Teori Sosiologi Suatu Perspektif tentang Teori Konflik dalam Masyarakat Industri’, UNIVERSITAS SAM RATULANGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK MANADO, 2012, 26.

[4] Kandiri Kandiri, ‘Ibnu Khaldun Pencetus Teori Siklus’, LISAN AL-HAL: Jurnal Pengembangan Pemikiran Dan Kebudayaan, 8.2 (2014), 249–66 <https://journal.ibrahimy.ac.id/index.php/lisanalhal/article/view/132> [accessed 6 June 2021].

[5] Elisa Sugiarto, ‘Teori Modernisasi’ <https://www.academia.edu/13479316/Teori_Modernisasi> [accessed 6 June 2021].

[6] Nurhadi Nurhadi, ‘Teori Ketergantungan Dalam Kajian Geografi’, Geomedia: Majalah Ilmiah Dan Informasi Kegeografian, 5.1 (2007) <https://doi.org/10.21831/gm.v5i1.14203>.

[7] Siswanto Daim, ‘Teori Sistem Dunia (World Sistem Theory)’ <https://www.academia.edu/6708759/Teori_Sistem_Dunia_World_Sistem_Theory> [accessed 6 June 2021].

[8] Epon Ningrum, ‘Perubahan Sosial’ <http://file.upi.edu/Direktori/DUAL-MODES/TEMPAT_RUANG_DAN_SISTEM_SOSIAL/BBM_11.pdf> [accessed 6 June 2021].

[9] Selo Soemardjan, ‘Setangkai Bunga Sosiologi’, 1964.

[10] Baharuddin Baharuddin, ‘Bentuk-Bentuk Perubahan Sosial dan Kebudayaan’, Al-Hikmah, 9.2 (2015) <https://doi.org/10.24260/al-hikmah.v9i2.323>.

[11] Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi Tentang Perubahan Sosial (Ghalia Indonesia, Jakarta, 1983).

[12] Indraddin and Irwan, Strategi dan Perubahan Sosial (Yogyakarta: DEEPUBLISH, 2016) <https://sinta.ristekbrin.go.id/assets/img/book/_9786024013790.pdf> [accessed 6 June 2021].

[13] Soerjono Soekanto, ‘Sosiologi Suatu Pengantar’, 2014.

[14] Talitha Lintang Pertiwi and others, ‘Makalah Dampak Perubahan Sosial’, 03:42:12 UTC <https://www.slideshare.net/TalithaLintang/makalah-dampak-perubahan-sosial> [accessed 7 June 2021].

Komentar